Kekerasan Seksual terhadap Anak Perempuan di SUMUT Sangat Buruk

Published by: Ronal Alexander | Siaran Pers

X adalah anak perempuan penyandang disabilitas berusia 13 tahun yang diperkosa berulang oleh beberapa laki-laki, baik anggota keluarga, maupun tetangga. Hanya ketika X hamil baru kasus ini terbuka.

Proses hokum berjalan lambat, masyarakat bahkan menganggap keluarga ini lebih pantas diusir dari desa

 

Ini salah satu contoh kasus yang ditangani oleh WCC Sinceritas-PESADA, yang melibatkan banyak pihak, dan yang sangat lambat menyadarkan para pihak betapa buruknya modus dan proses penanganan kasus ini.

Dalam kurun waktu 6 bulan (Januari Juni 2017), 17 kasus (20%) dari 81 kasus yang ditangani langsung oleh WCC Sinceritas – PESADA, adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak. Umur para korban mulai dari 3 tahun sampai 17 tahun. Kasus sebagian besar di pedesaan ataupun kota kecil, dengan rentang umur 3 sampai 16 tahun.

Para pelaku mulai dari Ayah tiri, Amangboru (Paman), tetangga, pacar (bagi yang remaja) yang pada umumnya adalah orang-orang yang dekat kepada korban atau kepada keluarga dan lingkungan korban. Sebagian kecil pelaku adalah anak laki-laki.

Penanganan beragam, tetapi sedikit yang betul-betul sesuai UU Hak Anak No 35/2014. Bahkan seorang anak perempuan berusia 17 tahun yang diperkosa pamannya, dipaksa menikah dengan seorang laki-laki tua, hanya untuk menyelamatkan nama masyarakat setempat Sebuah ironi yang sebenarnya bersifat criminal, kejahatan yang melawan UU, seperti tersebut di pasal 76E berikut ini:

Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan,
atau membujuk Anak untuk melakukan
atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

WCC Sinceritas-PESADA pada dasarnya adalah institusi yang khusus menangani perempuan usia dewasa. Tetapi kondisi SUMUT yang kurang sumberdaya menangnai anak perempuan, telah membuat Sinceritas menangani anak2 perempuan.

Sejalan dengan jumlah kasus yang ditangani di Sinceritas, klipping koran local bahkan menunjukkan jumlah kasus yang sangat buruk, dimana 53 kasus (49%) adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Untuk itu, kami dari WCC Sinceritas-PESADA menghimbau agar:

  1. Pemerintah SUMUT segera menunjukkan kemauan politisnya untuk mengurus dan bertanggung jawab terhadap pelanggaran hak-hak anak, khususnya anak perempuan melalui ketersediaan anggaran, mengaktifkan KPAID dan berbagai upaya lainnya sesuai tugas.
  2. Mensosialisasikan UU Anak dengan cara-cara popular dan mendorong setiap desa/kelurahan membangun sistim perlindungan anak, khususnya anak perempuan.
  3. Agar masyarakat peka terhadap berbagai bentuk kekerasan yang dialami anak2 khususnya anak perempuan, baik seksual, fisik di dalam dan di luar rumah tangga; dan bertindak cepat untuk menangani kasus-kasus yang terjadi.

 

Anak perempuan dan anak-anak bukanlah orang dewasa yang masih kecil, bukan asisten orang dewasa, atau mahluk kecil yang dipaksa menjadi dewasa dengan berbagai tugas, dsb. Apalagi menjadi obyek atau korban untuk memuaskan nafsu seksual para predator.

 

DENGAN KEPRIHATINAN MENDALAM UNTUK ANAK PEREMPUAN
& ANAK-ANAK KORBAN KEKERASAN & DISKRIMINASI
Di HARI ANAK NASIONAL INDONESIA 2017

Medan, 23 Juli 2017
Dina Lumbantobing
(PJ WCC Sinceritas-Pesada)

Berikan Komentar dan Tanggapan Anda Dibawah ini: